Teh Manis

Di hadapan saya, berdiri sebuah gelas keramik. Hitam, dengan garis-garis berlekuk. Isinya teh manis. Saya tahu, karena sayalah yang baru saja meraciknya.

Teringat hari esok. Ketika semua mimpi akan menemui ajalnya. Ketika waktu akan berpindah haluan. Dua minggu agaknya masih kurang untuk memenuhi hasrat saya. Saya masih haus. Tapi apa daya? Saya tak mampu berkata lagi.

Saya melingkarkan jemari di sekeliling pinggang gelas. Mereguk isinya. Menghirup aromanya. Saya harap, teh manis ini bisa mengobati rasa itu. Rasa yang bercokol di hati. Ditambah wangi jeruk, teh manis menjadi semakin manis.  Saya memang butuh yang manis-manis, untuk memaniskan hidup saya. Hidup saya memang suka keterlaluan, terkadang kelewat pahitnya.

Itulah mengapa saya butuh teh manis. Setiap hari.

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: