Archive for October, 2009

Game’s Over Now, And So Am I
October 30, 2009

I entered the game field

I watched you from outside the line

You didn’t notice, or you wouldn’t

But I still kept hopes with me

Now, the game’s over

And I know I’ll never have future with you

The score’s determined, and we’ve lost

It’s time for me to leave you alone

I pulled myself into the field for a while

Feeling what it’s like to be inside

And have a look at you for the very last time

Cause after this, now that the game’s over, so is mine

So I turned my back and walked

Out of the field, out of your life

I said goodbye to all that’s happened in the past

And you. You’re a part of it

Now I can fully accept

That I have to leave you and your perfect life, alone

Like it used to be before without me, and it’s better be

So while I left the field, I left everything

It’s really the end, and I wouldn’t turn around

Cause the game is finished, and so is time

So I have to move on, and forget my dream to be with you behind


For Some Reason…
October 26, 2009

I know that

For some reason, God must exist

Or, for other reasons, someone or something powerful

Yet full of love

Exists somewhere and watch me


For my wish has been granted

For my thought has been answered

I’m grateful for the someone who exists

For that someone takes care of me


(I met D today. I’m really happy!)

Heart is Glass
October 25, 2009

Heart is like a piece of clear glass

It starts as transparent

Everything looks really beautiful

Makes me think I can see anything

But as time goes by

The glass starts getting dirty

And it needs occasional cleaning

But some dirts cannot be swept away

And when the glass is broken

It needs some time to put every shattered piece back

And in the process, I get myself bleeding from picking up the sharps

And after putting everything back, the glass is not a complete piece

Cause there are small pieces, so small that I can’t see

Not even to put them back


My re-shaped heart is not clear and smooth again now

The Content of My Head
October 25, 2009

Right now my head is in completely jumbled, wizened mess. I think about Canada and how I’ll go there and survive. I think about school tomorrow and what I will do. I think about D and how she’ll never feel the same way as I feel about her, and why she doesn’t reply my message. I think about my friends and what’s wrong with me that made them turn their backs on me. I think about my dad who’ll change his mind persistently like wheels of a running car. I think about illustration and pure arts, and which one I’d rather take in university. I think about entering AJ and take psychology instead like my earliest plan. I think about the test tomorrow, how I’ll never understand it and its importance, and how I’ll bear tomorrow. I think about whether or not I’ll be able to see D tomorrow and have a chance of talking to her. I think about those things at one time like they’re cut outs of a black and white movie that keep flashing in my mind and changing fast as the movie roll turns.

I don’t think I’d be able to face tomorrow with this many thoughts in my mind. All I wanna do now is curve myself on the bed, close my eyes, and go to sleep until I’m ready to face reality.

Invisible Lover
October 25, 2009

I came to see you but you didn’t see

I stood in front of you, but you didn’t notice

What should I do for you to realize

That I’m here, always here,

For you?


I know at times

I could be invisible

But now that I want to exist

For you to see me

Turns out you don’t

Might be me who forget

How to be seen


Somehow, I just don’t know how


I thought I’d always be invisible

So people can’t see me

But I was wrong

Love has seen me

But you don’t

Turns out I’m an invisible lover


How can I make myself be seen?

So that you’ll notice me


Thank God There’s Cell Phone
October 24, 2009

Though I didn’t get through,

Though I didn’t make the challenge,

I’m still glad

So glad

Cause that way, I can speak to you

Though only for a few words,

But they’re the most beautiful words I’ve ever read

In my life

I never regret my loss

As it brought me a step closer to you

You don’t know how much your messages meant to me

I wish I can find something, some chance

To talk to you, somehow connected to you

I will keep searching

Meanwhile, thanks for the messages

Hati yang Terbelah
October 24, 2009

Saya meraih warna merah crimson. Menimbang-nimbang, warna macam apa yang baiknya saya racik. Saya memutuskan menambahkan putih untuk menjadikannya pink gelap.

Warna ini simbol hatiku, yang penuh dengan cinta untukmu.

Setelah membentuk siluet hati, saya mencampur crimson dengan setitik hitam. Menciptakan merah gelap, hampir seperti hitam. Menggoreskannya mengelilingi hati.

Merah hitam, tanda hatiku yang sakit karenamu.

Saya pun mewarnai sisi kiri kertas dengan warna ungu, kemudian menyapukan biru ultramarine bercampur ungu mengelilingi sisi kiri hati, tergradasi oleh ungu.

Biru dan ungu, kegelapan yang indah. Waktu kelamku bersamamu yang menyisakan kenangan terindah penuh sedih.

Kini sisi kanan kuberi warna ochre, kemudian kugradasikan dengan light yellow-medium yellow-orange. Menabrakkan warna biru dengan warna cerah.

Kuning, seperti waktu indah yang kuhabiskan bersamamu. Saat aku bisa melupakan bahwa kau telah memiliki dia.

Aku mencampurkan cat ungu dengan ultramarine, menggoreskan garis berliku di tengah hati.

Garis ini membelah hatiku. Setelah ia terbelah olehmu.

Warna ungu dan ultramarine kugoreskan tipis pada hati kiri. Membiarkan sisi kanan tetap berwarna pink indah, seperti yang kumau.

Menggelapkannya, layaknya hatiku yang menggelap karenamu. Menyisakan keindahan, terus mengingat cinta dalam hatiku.

Kugambar bunga lili putih di sisi kiri. Dua bunga, dengan tangkai hijau yang bersatu.

Aku selalu mencintai lili putih. Penuh kecantikan, keanggunan, keharuman. Lili putih, bukti bahwa dalam gelap pun, aku masih bahagia karenamu.

Kubentuk bunga ungu gelap di sisi kanan. Entah bunga apakah ia. Dengan tangkai hijau, memanjang ke dasar hati.

Gelapnya bunga adalah sedih yang kurasakan di tengah cinta dan saat-saat indah bersamamu, mengetahui bahwa aku takkan pernah bersamamu, atau kamu bersamaku.

Kubalikkan kertas. Kutulis dengan kuas dan warna-warna lukisanku.

Sebelah kiri. During the happy times, there’s sadness in my heart knowing that you’ll never love me, or realize my love for you.

Sebelah kanan. During the sad times, there’s joy in my heart that I’ve found you, and loved you, and remembered moments I spent with you.

Tengah bawah. To D. You’ve ripped my heart in two.

Sisi kanan. Tanda tanganku. 23 Oct 09.

Di sisi kiri To D. I want to walk you home that evening (karena itulah yang aku inginkan. Mengantarmu hingga ke depan pintu rumahmu. Bila saja aku berani melakukannya). Greet you cheerfully in the morning (karena itulah yang aku inginkan. Menyapamu dengan ceria, supaya kamu memerhatikanku. Kalau saja aku telah melakukannya).

Di sisi kanan To D. I wanna talk to you (kenapa aku tak pernah punya keberanian itu?), and keep you near for eternity (kuharap kamu akan tetap bersamaku. Kita akan bertengkar layaknya pasangan, dan hidup bahagia hingga akhir hayat).

Aku sudah berencana menyumbangkan lukisan ini untuk sekolah. Biar perasaanku hidup abadi di tempat dimana aku merasakannya pertama kali. Biar perasaanku tetap abadi tanpa harus kutemani.

Meski kau tak pernah mengetahuinya. Karena aku tak pernah mengirimnya padamu.

Rencana keduaku, judul lukisan. Aku membayangkan lukisanku masuk pameran, dan ada kertas kecil di bagian bawah pigura bertuliskan My Ripped Heart.

Karena kamu telah membelah hatiku jadi dua. Hati yang senang, namun dinodai kesedihan. Hati yang sedih, namun diwarnai kebahagiaan. Kedua-duanya berisi cinta.

Lalu, saat pameran akan ada yang mau membeli lukisanku. Tapi aku takkan menjualnya. Karena walau bagaimanapun, ini adalah hatiku. Yang berisi cintaku padamu. Dan kata-kataku untukmu dibelakangnya.

Rencana ketiga, aku bisa saja memberikannya padamu. Dalam keadaan sudah dipigura. Alasanku, kenang-kenangan untukmu. Karena aku ingin memberikannya padamu. Dan siapa tahu, bertahun-tahun kemudian kamu tak sengaja memecahkan kaca frame dan membalik lukisanku. Tapi aku tak merasa lukisanku seindah itu untuk kuberikan. Nanti kamu mengira aku narsis.

Rencana keempat, meng-upload gambarku. Kamu akan melihatnya tanpa sengaja, kemudian mencari lukisanku di sekolah dan membuka framenya. Membaca isi pesanku untukmu. Dan menyadari bahwa D adalah kamu.

Rencana kelima, membayangkan orang lain di tahun-tahun mendatang,  bagaimanapun caranya, membaca pesanku. Mengetahui bahwa pernah ada kisah cinta yang tak terbalas di sekolah. Dan kisah ini akan jadi legenda.

Sayangnya, kamu tetap tak membacanya.

Lukisanku bukanlah hati yang patah jadi dua. Lukisanku adalah hati yang terbelah karena merasakan dua hal yang sama, dalam waktu yang berbeda. Menyenangkan, sekaligus menyedihkan. Kamulah yang membelahnya.

To D, with love.


The Broken-Hearted Dreamer
October 24, 2009

Beautiful dreamer

Always living on her dreams

Standing tall, built on her dreams

Facing life, believing in her dreams


I wish I can tell her

How her dreams are illusory

But she won’t believe me

Or, in other words, she can’t believe me


Now her dreams are ruined

The love story she used to live in

Are crushed and thrown, shattered in the bottom

Of her heart

Now she understands that she mustn’t believe in her dreams

Especially love. There’s no happy ending


Now the beautiful dreamer

Is no more than a broken-hearted

She has no heart left

Can she wait for it to heal?


Now the broken-hearted dreamer

Learned to believe in her pain

And stand on her pain

Rather than take the chance

Of her heart to re-broken


Now the broken-hearted dreamer

Learned that dreams are liars

That dreams are not to be trusted

And not to live in

Cause they’ve disappoint her,

Lifting her up to the sky

Then left her, falling down back to earth

And have her heart broken


I wish I’ve convinced her

That her dreams are too unrealistic

But what can I do? She won’t believe me

Or, in other words, I can’t believe me


Now I’m a broken-hearted dreamer

Lukisan Hidup
October 18, 2009

Melukis adalah seni. Curahkan perasaan, pahami sang lukisan. Inspirasilah yang harus dituangkan, bukan plagiat. Seni yang terburuk adalah seni yang tidak jujur.

Hidup adalah lukisan. Penuh warna, penuh emosi. Hidup berasal dari inspirasi. Sudah semestinya hidup merupakan kejujuran bagi diri sendiri.

Banyak orang yang mengritik, seharusnya memakai warna ini, seharusnya menyapukan arah itu, seharusnya menggunakan gradasi. Bila diikuti, semua mulut berbicara semua hal berbeda. Lukisan tak pernah jadi. Lukisan tak terlihat indah. Lukisan tak bersumber dari inspirasi. Dan lukisan menjadi sebuah kepalsuan.

Mempertimbangkan saran yang datang, boleh-boleh saja. Pikiran baiknya terbuka untuk memperoleh inspirasi, namun bukan berarti mengambil semua yang datang. Orang pintar berwawasan luas, orang bijak memilah informasi yang ada. Sesuaikan dengan kata hati. Jadilah lentera bagi diri sendiri.

Bila ada kata yang tak dikenankan, apalagi berupa paksaan, baiknya ditolak saja. Lukisan ini milik sendiri, patutnya diwarnai sesuai kehendak hati. Jadikanlah lukisan indah, tapi menurut kata hati, bukan orang lain. Bila terus-menerus mengekor, hidup ini bukan lagi milik pribadi, namun jadi kreasi yang lain. Dimana kepunyaan diri?

Ketika mulai tergoyahkan dan bimbang, beritahu pikiran. Ini lukisan saya, warna saya. Inspirasi saya, kejujuran saya. Lukisan ini akan jadi indah bagi saya. Lukisan ini menyiratkan saya. Lukisan ini pribadi saya.

Ini hidup saya.

When Everything’s Gone
October 18, 2009

What used to be

Now isn’t here

Thought it would be eternity

I was wrong

When everything’s gone

I feel left out, alone, and deserted

When everything’s gone

What’s left? Nothing for me to hold on

Just vague memories that are fading away

Only a question stays with me

Why, why, and why?

Why should all are lost?

Why can’t they stay

Here right by my side

And never leave me by myself?

It’s all nothing but a dream

That I have to let go, now that I’m awake

Feels like time has flown straight to fall

If only I could bring them back

And cherish them more, and keep them safe in my hand

I wish I could

Now that everything’s gone