Papa dan Saya

Ini potongan percakapan saya dengan papa saya.

“Kamu nggak mau kuliah ke Jerman?” Papa.

“Mau aja sih… Tapi bahasanya belum belajar.” Saya.

Kami sedang membicarakan kemungkinan saya kuliah ke luar. Lebih tepatnya, Papa baru melanjutkan pembicaraan satu setengah jam yang lalu di mobil yang terpotong. Pembicaraan berlanjut mengenai Jerman. Tidak lama sebenarnya.

Kemudian masuk ke percakapan inti.

“Sebenarnya kalau kamu punya prestasi yang bagus di sekolah, Papa paksain deh jual-jual. Supaya kamu bisa ke luar. Tapi kenyataannya? (Papa menggeleng, menatap saya dengan matanya) Selama ini kamu cuma rata-rata, malah cenderung pas-pasan. Gimana Papa bisa pertaruhkan uang yang begitu banyak untuk kamu?”

Saya bimbang antara tetap berdiri di belakang kursi atau pergi dan meracik teh manis. Kalau saya tetap berdiri, saya akan tampak seperti sedang tersinggung. Kalau saya pergi, saya seperti orang yang melarikan diri. Tapi daripada kepalang stres, lebih baik saya bikin teh manis.

Saya berjalan sambil menunggu Papa melanjutkan kata-katanya. Namun ternyata itu akhir pidatonya. Kemudian saya bertanya-tanya sendiri, jadi kalau ***a, akan diizinkan pergi ke luar? Saya tahu nilai-nilai kakak saya jauh lebih baik dari nilai saya. Lalu mengapa dia tetap kuliah disini? Apakah itu tandanya dia bisa mengerti Papa? Berarti saya tidak?

Lalu saya berpikir lagi. Prestasi yang Papa maksud adalah nilai saya di sekolah. Selalu angka. Hidup kita selalu dinilai dengan angka. Saya teringat dengan buku The Little Prince yang dibacakan guru saya. Benar sekali kata si pengarang. Orang dewasa selalu menghitung segalanya dengan angka. Ketika seseorang membicarakan mengenai anak kecil, orang dewasa akan bertanya, berapa umurnya? Berapa tingginya? Berapa penghasilan orangtuanya? Saat seorang ibu melahirkan, yang pertama ditanyakan adalah berapa kakinya? Berapa tangannya? Berapa kelaminnya? Berapa beratnya? Berapa panjangnya? Tak bisakah bertanya, bernafaskah ia? Menangiskah ia?

Kemudian pikiran picik mulai mengetuk otak saya lagi. Apa hak Papa berbicara mengenai prestasi saya? Apakah ia bahkan membaca rapor semester tengah saya? Apakah ia tahu bahwa saya telah membuat banyak kemajuan tahun ajaran ini?

Saya harus mengakui, kelas satu saya sering tidur di kelas. Hampir setiap hari. Kelas dua, masih juga, meski dengan frekuensi lebih jarang. Mohon diketahui, kelas satu saya hanya punya satu teman di kelas. Selebihnya, mereka adalah orang-orang yang memandang saya dengan jijik atau kasihan. Saya pasrah.

Kelas dua, semestinya saya bisa berteman dengan mereka. Tapi saya trauma. Dengan pengalaman di kelas satu. Saya pikir mereka masih merupakan orang-orang yang sama. Dan memang ada orang-orang yang sama yang membayangi saya di kelas.

Kelas tiga, saya tidak tidur di kelas lagi. Saya mencatat yang saya perlu. Saya mengobrol dengan teman. Saya hang out. Nilai saya membaik. Tahukah Papa mengenai itu semua?

Berhakkah Papa berkata prestasi saya selalu buruk? Saya merasa dia bahkan tak mengenal saya. Dia pikir saya adalah anak tahun lalu. Papa tak tahu bahwa saya telah menjadi lebih dewasa. Tak bisakah orang dinilai dari sikapnya? Dulu saya selalu dibanding-bandingkan dengan anak dari teman Mama saya. Nilai-nilainya selalu bagus. Ia masuk ranking tiga teratas di kelasnya. Saya? Saya sibuk remedial.

Tapi saya merasa saya tak kalah kok dengan dia. Malah, saya merasa saya lebih mandiri. Saya tak takut harus jalan dua kilometer untuk sampai ke rumah. Menurut dia, itu nightmare. Saya berani mengayuh sepeda sampai ke tempat les saya. Dia bahkan tak berani memikirkannya. Saya berani aktif di berbagai organisasi, bertemu orang-orang asing, membuat pertemanan dengan wajah-wajah baru. Dia bilang, itu buang-buang waktu. Yang sederhana saja. Saya ke toilet nggak perlu menunggu teman. Dia selalu berdua. Tapi saya akui, dia lebih populer, lebih gaul dari saya. Saya tak pernah berani dekat-dekat dengan orang lain secara mental dan emosi. Saya adalah orang yang akan dikategorikan psikolog atau psikiater sebagai intimacy phobe. Orang yang takut akan kedekatan intim. Itulah sebabnya saya tak bisa punya teman dekat. Tapi, secara sikap saya merasa unggul. Tak baikkah hal itu?

Pikiran yang lebih picik pun kembali mengarungi pikiran saya. Tak usahlah saya sebut. Namun yang pasti, saya tahu peran Papa dalam hidup saya. Dia menopang keluarga secara finansial. Saya takkan bisa hidup begini tanpa Papa. Untuk itu, aku menghormatimu, Papa.

Saya tahu juga, banyak pemikiran Papa yang beliau turunkan pada saya. Berbagai pemikiran yang membuat saya lebih terbuka, lebih kritis. Tapi saya tetap tak bisa menyingkirkan ketidaksukaan saya pada Papa. Susah kalau harus saya sebutkan satu persatu. Saya pernah menceritakannya pada sepupu saya, orang yang saya sayangi dan hormati. Dan saya senang, ia juga setuju dengan saya. Namun tentunya, dengan diikuti nasihat. Dan saya mencoba mengikuti nasihatnya.

Papa tak tahu, berapa banyak yang saya telah lalui dalam hidup. Papa tak tahu, seberapa besar perjuangan saya untuk sampai kesini. Perjuangan yang masih saya lakukan. Perjuangan yang telah merubah saya secara mental. Saya lebih menyayangi diri saya sekarang.

Itu kalau Papa sedang tidak mencela saya.

Saya harap, Papa bisa memahami saya. Saya harap, Papa bisa membiarkan saya berpikir sebentar. Saya harap, Papa berhenti menuntut hal-hal dari saya sejenak.

Saya tidak bisa menangis.

Bolehkah saya berharap, Papa?

(Harap diketahui, saya berpikir yang diatas tanpa kemarahan. Saya murni bertanya-tanya. Saya sudah mulai kebal dengan Papa rupanya. Sekarang Anda mengerti kan, mengapa saya kecanduan teh manis?)

Advertisements

3 Responses

  1. ya, papa kamu g akan pernah bisa mengerti kamu klo kamu g pernah ngasih tau gimana perasaan kamu yg sesungguhnya, gmana kehidupan kamu di sekolah memperjuangkan hidup akademis dan sosial kamu..
    tunjukkan aja tulisan ini ke papa kamu,
    semoga bliau bisa mengerti..

    • Papa sebenarnya tahu sih keadaan saya di sekolah. Papa juga yang mendukung saya melewati keadaan tersulit beberapa tahun lalu. Tapi saya maklum bila Papa ingin saya berjuang lebih keras. Hanya saja ada beberapa hal yang saya tidak nyaman mengatakan pada Papa. Papa saya bukan orang yang bisa ditebak dengan mudah.

  2. itulah orang tua, menginginkan yang terbaik yang dilakukan oleh anaknya untuk keluarganya,,
    patut dimaklumi
    tapii, ni yg harus dicoba, ngobrol ap adanya dengan orangtua, jadikan mereka itu temen curhat, banyak orang tua yang ga bijak, tapi orang tua akan merasa senang saat anaknya berkata jujur kepada orang tuanya, meskipun tak bersolusi, kepuasan batin itu ada..
    ingat, masalah pasti ada,, qta serahkan kepada Sang Pemberi Jawaban sajah untuk menguatkan kita melalui berbagai perjalanan hidup..
    wallahualam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: