Hati yang Terbelah

Saya meraih warna merah crimson. Menimbang-nimbang, warna macam apa yang baiknya saya racik. Saya memutuskan menambahkan putih untuk menjadikannya pink gelap.

Warna ini simbol hatiku, yang penuh dengan cinta untukmu.

Setelah membentuk siluet hati, saya mencampur crimson dengan setitik hitam. Menciptakan merah gelap, hampir seperti hitam. Menggoreskannya mengelilingi hati.

Merah hitam, tanda hatiku yang sakit karenamu.

Saya pun mewarnai sisi kiri kertas dengan warna ungu, kemudian menyapukan biru ultramarine bercampur ungu mengelilingi sisi kiri hati, tergradasi oleh ungu.

Biru dan ungu, kegelapan yang indah. Waktu kelamku bersamamu yang menyisakan kenangan terindah penuh sedih.

Kini sisi kanan kuberi warna ochre, kemudian kugradasikan dengan light yellow-medium yellow-orange. Menabrakkan warna biru dengan warna cerah.

Kuning, seperti waktu indah yang kuhabiskan bersamamu. Saat aku bisa melupakan bahwa kau telah memiliki dia.

Aku mencampurkan cat ungu dengan ultramarine, menggoreskan garis berliku di tengah hati.

Garis ini membelah hatiku. Setelah ia terbelah olehmu.

Warna ungu dan ultramarine kugoreskan tipis pada hati kiri. Membiarkan sisi kanan tetap berwarna pink indah, seperti yang kumau.

Menggelapkannya, layaknya hatiku yang menggelap karenamu. Menyisakan keindahan, terus mengingat cinta dalam hatiku.

Kugambar bunga lili putih di sisi kiri. Dua bunga, dengan tangkai hijau yang bersatu.

Aku selalu mencintai lili putih. Penuh kecantikan, keanggunan, keharuman. Lili putih, bukti bahwa dalam gelap pun, aku masih bahagia karenamu.

Kubentuk bunga ungu gelap di sisi kanan. Entah bunga apakah ia. Dengan tangkai hijau, memanjang ke dasar hati.

Gelapnya bunga adalah sedih yang kurasakan di tengah cinta dan saat-saat indah bersamamu, mengetahui bahwa aku takkan pernah bersamamu, atau kamu bersamaku.

Kubalikkan kertas. Kutulis dengan kuas dan warna-warna lukisanku.

Sebelah kiri. During the happy times, there’s sadness in my heart knowing that you’ll never love me, or realize my love for you.

Sebelah kanan. During the sad times, there’s joy in my heart that I’ve found you, and loved you, and remembered moments I spent with you.

Tengah bawah. To D. You’ve ripped my heart in two.

Sisi kanan. Tanda tanganku. 23 Oct 09.

Di sisi kiri To D. I want to walk you home that evening (karena itulah yang aku inginkan. Mengantarmu hingga ke depan pintu rumahmu. Bila saja aku berani melakukannya). Greet you cheerfully in the morning (karena itulah yang aku inginkan. Menyapamu dengan ceria, supaya kamu memerhatikanku. Kalau saja aku telah melakukannya).

Di sisi kanan To D. I wanna talk to you (kenapa aku tak pernah punya keberanian itu?), and keep you near for eternity (kuharap kamu akan tetap bersamaku. Kita akan bertengkar layaknya pasangan, dan hidup bahagia hingga akhir hayat).

Aku sudah berencana menyumbangkan lukisan ini untuk sekolah. Biar perasaanku hidup abadi di tempat dimana aku merasakannya pertama kali. Biar perasaanku tetap abadi tanpa harus kutemani.

Meski kau tak pernah mengetahuinya. Karena aku tak pernah mengirimnya padamu.

Rencana keduaku, judul lukisan. Aku membayangkan lukisanku masuk pameran, dan ada kertas kecil di bagian bawah pigura bertuliskan My Ripped Heart.

Karena kamu telah membelah hatiku jadi dua. Hati yang senang, namun dinodai kesedihan. Hati yang sedih, namun diwarnai kebahagiaan. Kedua-duanya berisi cinta.

Lalu, saat pameran akan ada yang mau membeli lukisanku. Tapi aku takkan menjualnya. Karena walau bagaimanapun, ini adalah hatiku. Yang berisi cintaku padamu. Dan kata-kataku untukmu dibelakangnya.

Rencana ketiga, aku bisa saja memberikannya padamu. Dalam keadaan sudah dipigura. Alasanku, kenang-kenangan untukmu. Karena aku ingin memberikannya padamu. Dan siapa tahu, bertahun-tahun kemudian kamu tak sengaja memecahkan kaca frame dan membalik lukisanku. Tapi aku tak merasa lukisanku seindah itu untuk kuberikan. Nanti kamu mengira aku narsis.

Rencana keempat, meng-upload gambarku. Kamu akan melihatnya tanpa sengaja, kemudian mencari lukisanku di sekolah dan membuka framenya. Membaca isi pesanku untukmu. Dan menyadari bahwa D adalah kamu.

Rencana kelima, membayangkan orang lain di tahun-tahun mendatang,  bagaimanapun caranya, membaca pesanku. Mengetahui bahwa pernah ada kisah cinta yang tak terbalas di sekolah. Dan kisah ini akan jadi legenda.

Sayangnya, kamu tetap tak membacanya.

Lukisanku bukanlah hati yang patah jadi dua. Lukisanku adalah hati yang terbelah karena merasakan dua hal yang sama, dalam waktu yang berbeda. Menyenangkan, sekaligus menyedihkan. Kamulah yang membelahnya.

To D, with love.

 

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: