Archive for September, 2012

Kenangan
September 5, 2012

Ada satu kenangan bersama Papa yang seringnya terlupakan, tapi baru saja teringat kembali. Dan kenangan itu cukup berbekas hingga saya merasakan lagi sakit di kerongkongan dan basahnya mata.

Kenangan ini adalah sebuah kejadian yang saya tidak pernah bermimpi akan mengalami, dan hanya pernah terjadi saat itu, sekali saja.

Saat itu, saya menelepon Papa.

Ketika saya mendengar kata, “Halo,” di ujung telepon, saya hanya menyebut, “Papa.” Lalu saya menangis.

Papa tidak mengatakan apa-apa, hanya hening. Yang terdengar hanya suara tangisan saya. Setelah beberapa menit, saya mulai tenang. Tangisan saya sudah beralih menjadi sesenggukan.

Ini memori yang, bagi saya, sangat kuat. Karena biasanya saya tidak pernah berbagi perasaan dengan Papa, tidak pernah mengungkapkan perasaan kecuali kalau saya sedang marah pada Papa. Dan saat itu Papa mendengarkan tangisan saya. Dalam diam.

Mungkin lebih baik begitu. Papa diam. Karena saya tahu, Papa bukan orang yang ekspresif, yang bisa menghibur dengan kata-kata lembut. Seumur hidup pun, saya baru sekali melihat Papa menangis. Tapi, dalam diamnya Papa, saya justru terhibur, hingga kemudian saya bisa bicara layak.

Mungkin saya bisa menangis, karena saya mau berbicara mengenai satu topik yang saya tahu, Papa pun peduli. Topik yang penting bagi kami berdua, yang dapat kami rasakan bersama. Saat itu, anjing saya baru mati.

Setelah itu, baik saya maupun Papa tidak pernah mengungkit telepon itu. Tapi, bagi saya, memori itu sungguh berarti. Dan saya kira memori itu juga berarti untuk Papa, saat mendengarkan putrinya menangis di telepon, dalam diam.