Archive for November, 2012

Mengenai Komitmen – dan Tuntutan
November 25, 2012

Ini adalah lanjutan dari post saya sebelumnya mengenai komitmen.

Sekedar memberi sedikit gambaran, tulisan yang saya maksud diterbitkan di sebuah website, dan tentunya membicarakan mengenai hubungan romansa. Setelah tulisan yang pertama, kemudian ada tulisan lain yang diterbitkan setelahnya yang membicarakan mengenai perubahan. Sejujurnya, saya merasa tulisan ini agak menyinggung komentar saya di tulisan pertama, yang mungkin terlalu ambigu karena saya mencoba menjaga agar komentar saya tidak keluar jalur dari topik tulisan, sekaligus agar komentar saya tidak lebih panjang dari artikelnya.

Bagi saya, perubahan itu bukanlah sebuah halangan bagi hubungan yang benar-benar secure, diisi kepercayaan total pada pasangan. Mungkin bagian yang ambigu dari komentar saya adalah saat saya menulis “terlalu mengontrol,” dan ada bagian saat saya menulis menuntut. Saya mengira-ngira bahwa penulis mengira saya anti perubahan dan diminta berubah. Sebenarnya maksud saya bukan itu. Saya menyimpulkan hal itu setelah mendengar berbagai cerita seperti seseorang yang selama berhubungan dengan pacarnya dalam satu tahun, dia sudah berganti nomor telepon seratus kali. Seratus kali. Itu berarti rata-rata dia mengganti nomor telepon setiap tiga atau empat hari. Alasannya sederhana, karena pacarnya takut dia ngobrol dengan cewek lain. Maunya sang pacar, dia hanya boleh ngobrol dengan si pacar. Titik.

Bukankah ini juga satu bentuk tuntutan dan kontrol?

Yap, inilah yang saya maksud.

Contoh lain adalah mengenai teman dekat saya yang sangat diatur ibunya, dari makanan yang boleh dia makan, jam berapa dia boleh keluar rumah (dan berapa lama), pakaian yang harus dipakai, dan sebagainya (sebagai catatan sampingan, teman saya berumur 19, bukan 10 tahun). Mungkin sekilas kedengarannya cukup normal, tapi teman saya jadi stres. Efek sampingnya, dia melakukan hal yang sama pada teman-temannya – sering memaksakan kehendak seperti kalau ke restoran tertentu harus memesan makanan yang dia rekomendasikan. Dia berdebat dengan seorang teman lain selama lima belas menit karena teman yang satu mau memesan makanan lain dan dia memaksa bahwa yang dia sarankan lebih enak. Tidak, mereka tidak berencana berbagi makanan. Bukan hanya dalam hubungan dengan teman lain, dengan dirinya sendiri pun teman saya kurang nyaman. Jadinya, dia selalu bergantung pada teman lain untuk minta ditemani karena dia tidak nyaman sendirian di dalam rumahnya sendiri. Sayangnya, karena terlanjur terlalu patuh pada orangtuanya (terutama ibunya), dia pun tidak berani mengakui bahwa dia tidak suka pada cara ibunya mengatur dia.

Kalau sudah begini, bukan tuntutan untuk kebaikan lagi namanya, tapi tuntutan untuk merespons ketakutan si penuntut dan meyakinkan bahwa ketakutannya tidak akan terpenuhi. Buat saya, ini adalah bukti bahwa si penuntut sangat insecure (maaf saya tidak tahu terjemahannya dalam bahasa Indonesia). Lama-kelamaan, pihak yang dituntut pun bisa ikut insecure juga karena, meski tanpa kesadaran penuh, dia mencium insecurity dalam hubungan mereka. Pada akhirnya, dia pun ikut merasakan ketakutan si penuntut.

Tuntutan yang seperti ini, saya yakini sudah tergolong tidak sehat.

Advertisements

Merry Go Round
November 24, 2012

And the merry go round

merry go round merry go round

merry go round in the sky

see the ornamental

angels on horses

pink white yellow fly fly fly

shining like the stars

the diamonds on the rim

of the edges on the sky

merry go round merry go round

merry go round in the sky

Takut Pulang
November 24, 2012

Takut.

Aku takut

untuk pulang.

Aku takut

mereka benar.

Bahwa ibuku

dan teman-temannya

semua berceramah

dalam dusta.

Dengan kesombongan,

Tanpa mendengar.

Aku takut

mereka sudah

mencium baunya aku

yang tak berparas

indah

hanya punya

lidah

yang berlapis

ludah.

Aku ragu,

apa ayah

sedang menegurku,

aku

yang mengalih jalan

jadi miring diagonal.

Aku

percayakan diriku

bahwa mereka tak

sekejam itu.

Kata mereka.

Aku

mengejang.

Aku

takut pulang.

Kini aku

pulang

tanpa sayang.

(Ayah, ibu, kalau kalian mau mendengar, durhaka pun aku tak pernah. Hanya salah paham. Dan mungkin ini paranoidku).

 

*Bukan mengenai orangtua sesungguhnya

Esai
November 23, 2012

Waktu menulis esai

aku justru menulis

seratus baris puisi

terpisah-pisah.

(Tapi semuanya berarti kok.

Meski tanpa alasan).

Rindu
November 23, 2012

Aku rindu kamu

seperti pungguk rindu bulan.

Terlalu klise.

Begitulah aku.

A Mini Essay
November 23, 2012

I think think think because because because so so so that I conclude that.

Meditation
November 23, 2012

Meditation

is seeing the world in green

through the forehead

with a blue transparent film.

To feel the limbs

and have control.

To know where you’re sitting,

and the feeling of safety.

Like sitting on a lotus

on a vast bowl full of

mud and water.

Sayangku
November 23, 2012

Sayangku,

Semalam aku bermimpi

Ketemu kamu dan saudaramu.

Mereka bilang

Aku jahanam.

Aku gila

Membuatmu berdarah. Bangsat!

Mereka tidak tahu

Aku memimpikan kamu

Dengan aroma bunga

Melati dan mawar,

Dalam bingkai instagram,

Warna warni vignette style

Setiap malam.

Sayangku,

Aku mau ketemu kamu.

*Setengahnya tertulis mendadak sambil menunggu bus

Youtube Ad
November 18, 2012

Playing a study music playlist on Youtube:

Why so loud?

Damn ads!

Skip ad – clicked.

Auto play – on.

God. Another ad.

Skip ad – clicked.

Music ends? No ad?

Good.

Another music.

And another, and another.

What’s this? Sounds familiar.

Fuck. That damn ad.

Skip ad – clicked.

I need to study properly, and here I am clicking on skip ads.

: Ads make youtube free.

Mengenai Komitmen
November 16, 2012

Setelah membaca sebuah tulisan mengenai komitmen, renungan saya yang sampai sekarang belum ada jawabannya muncul lagi. Yang akan saya ajukan di bawah, semuanya berbentuk pertanyaan, jadi siap-siap ikut bingung lho…

Sudah lama saya bertanya-tanya, komitmen itu sebenarnya mengenai apa? Apakah hanya berjanji? Komitmen yang saya bicarakan disini adalah komitmen dalam sebuah hubungan, bersama orang lain. Apakah komitmen itu kemudian dibentuk sebagai sebuah janji, seperti “saya berjanji akan terus bersama orang ini, dalam susah dalam duka, dalam sakit dalam sehat, sampai ajal memisahkan”? Mungkin bisa diperkuat lagi, jadi “saya bersumpah.” Lalu bukankah komitmen itu jadi tak memiliki alasan logis yang mendasari? Jadi, kita hanya memegang janji itu sebagai dasar, bahwa ya, saya pernah berkata demikian, dan saya akan mengikuti kata-kata saya.

Saya gali lagi pikiran saya sebelumnya. Kalau dalam hubungan, katakanlah pasangan saya berubah drastis. Apa yang membuat saya berpegang teguh padanya, daripada meninggalkan orang tersebut? Mungkin pendengar akan berpikir kalau saya nggak ada pendirian, atau nggak ada kesetiaan. Tenang dulu. Yang saya mau tanya, apakah kemudian saya tetap tinggal dengan menggenggam kenangan indah kami bersama sebagai dasarnya? Lebih jauh lagi, misalnya pasangan saya kehilangan memori dan kemudian personalitinya juga berubah. Artinya, saya berpegang hanya pada kenangan dan bentuk fisiknya.

Mengapa saya sebut alasan terakhir, itu karena saya ingin mengajukan cerita buatan saya. Anggaplah kecelakaan itu benar-benar terjadi, hingga sang pasangan kehilangan ingatan. Hanya saya yang ingat mengenai berbagai memori kami. Lalu, bagaimana jika kemudian muncul seseorang lain yang beda fisik dan jelas-jelas tidak pernah berbagi kenangan dengan saya, namun ia memiliki personaliti yang persis seperti pasangan saya dulu.

Haruskah saya, dengan sumpah komitmen saya, tetap tinggal dalam hubungan tersebut?

Ada penggalian lebih jauh lagi. Jika segala kemungkinan di dunia bisa terjadi, dan pasangan saya sudah kecelakaan, namun dengan segala kemungkinan rohnya berpindah tubuh. Dengan kemungkinan lagi, kami bertemu, dan dia mencoba meyakinkan saya bahwa dia adalah sang pasangan, tapi fisiknya berbeda. Bagaimana saya bisa yakin bahwa tubuh itu terisi dengan rohnya?

Dalam kasus ini, saya akan berargumen bahwa dia bisa menyebutkan persis semua kenangan kami berdua. Dengan analogi dan jawaban diatas, saya menyimpulkan bahwa kenangan itu sangat kuat. Namun, kembali ke kenyataan, jika pasangan berubah drastis, sangat drastis hingga sudah tidak ada lagi kebahagiaan untuk saya. Apakah kemudian kenyataan bahwa kami sudah berbagi sekian kenangan indah cukup untuk menjadi alasan meneruskan hubungan kami? Jika kebahagiaan itu bertahan selama lima tahun, kemudian dia berubah dan kami bertahan dua puluh tahun, cukupkah bagi lima tahun pertama itu untuk mendasari empat kali lipatnya?

Sebagai catatan, saya membicarakan semua ini tanpa mengikutsertakan faktor-faktor lain seperti anak atau perasaan orangtua yang harus dijaga.

Lalu ada pertanyaan lain lagi. Jika saya sudah berkomitmen, apakah komitmen itu tidak ada ujungnya? Jika saya harus menetap apapun yang terjadi, adakah suatu titik dimana saya bisa berkata, “Cukup, saya tidak bisa meneruskan komitmen saya.”

Saya bukannya sedang melegitimasikan orang-orang yang nggak setia lho. Seperti orang lain, saya juga punya stigma terhadap orang-orang yang cepat sekali putus atau bercerai, meski contoh konkrit kakak saya langsung menegur bahwa saya tidak pernah merasakan sendiri proses itu.

Yah, tapi siapa lah saya untuk mempertanyakan dan menganalogikan, toh saya belum pernah punya hubungan serius…