Mengenai Komitmen

Setelah membaca sebuah tulisan mengenai komitmen, renungan saya yang sampai sekarang belum ada jawabannya muncul lagi. Yang akan saya ajukan di bawah, semuanya berbentuk pertanyaan, jadi siap-siap ikut bingung lho…

Sudah lama saya bertanya-tanya, komitmen itu sebenarnya mengenai apa? Apakah hanya berjanji? Komitmen yang saya bicarakan disini adalah komitmen dalam sebuah hubungan, bersama orang lain. Apakah komitmen itu kemudian dibentuk sebagai sebuah janji, seperti “saya berjanji akan terus bersama orang ini, dalam susah dalam duka, dalam sakit dalam sehat, sampai ajal memisahkan”? Mungkin bisa diperkuat lagi, jadi “saya bersumpah.” Lalu bukankah komitmen itu jadi tak memiliki alasan logis yang mendasari? Jadi, kita hanya memegang janji itu sebagai dasar, bahwa ya, saya pernah berkata demikian, dan saya akan mengikuti kata-kata saya.

Saya gali lagi pikiran saya sebelumnya. Kalau dalam hubungan, katakanlah pasangan saya berubah drastis. Apa yang membuat saya berpegang teguh padanya, daripada meninggalkan orang tersebut? Mungkin pendengar akan berpikir kalau saya nggak ada pendirian, atau nggak ada kesetiaan. Tenang dulu. Yang saya mau tanya, apakah kemudian saya tetap tinggal dengan menggenggam kenangan indah kami bersama sebagai dasarnya? Lebih jauh lagi, misalnya pasangan saya kehilangan memori dan kemudian personalitinya juga berubah. Artinya, saya berpegang hanya pada kenangan dan bentuk fisiknya.

Mengapa saya sebut alasan terakhir, itu karena saya ingin mengajukan cerita buatan saya. Anggaplah kecelakaan itu benar-benar terjadi, hingga sang pasangan kehilangan ingatan. Hanya saya yang ingat mengenai berbagai memori kami. Lalu, bagaimana jika kemudian muncul seseorang lain yang beda fisik dan jelas-jelas tidak pernah berbagi kenangan dengan saya, namun ia memiliki personaliti yang persis seperti pasangan saya dulu.

Haruskah saya, dengan sumpah komitmen saya, tetap tinggal dalam hubungan tersebut?

Ada penggalian lebih jauh lagi. Jika segala kemungkinan di dunia bisa terjadi, dan pasangan saya sudah kecelakaan, namun dengan segala kemungkinan rohnya berpindah tubuh. Dengan kemungkinan lagi, kami bertemu, dan dia mencoba meyakinkan saya bahwa dia adalah sang pasangan, tapi fisiknya berbeda. Bagaimana saya bisa yakin bahwa tubuh itu terisi dengan rohnya?

Dalam kasus ini, saya akan berargumen bahwa dia bisa menyebutkan persis semua kenangan kami berdua. Dengan analogi dan jawaban diatas, saya menyimpulkan bahwa kenangan itu sangat kuat. Namun, kembali ke kenyataan, jika pasangan berubah drastis, sangat drastis hingga sudah tidak ada lagi kebahagiaan untuk saya. Apakah kemudian kenyataan bahwa kami sudah berbagi sekian kenangan indah cukup untuk menjadi alasan meneruskan hubungan kami? Jika kebahagiaan itu bertahan selama lima tahun, kemudian dia berubah dan kami bertahan dua puluh tahun, cukupkah bagi lima tahun pertama itu untuk mendasari empat kali lipatnya?

Sebagai catatan, saya membicarakan semua ini tanpa mengikutsertakan faktor-faktor lain seperti anak atau perasaan orangtua yang harus dijaga.

Lalu ada pertanyaan lain lagi. Jika saya sudah berkomitmen, apakah komitmen itu tidak ada ujungnya? Jika saya harus menetap apapun yang terjadi, adakah suatu titik dimana saya bisa berkata, “Cukup, saya tidak bisa meneruskan komitmen saya.”

Saya bukannya sedang melegitimasikan orang-orang yang nggak setia lho. Seperti orang lain, saya juga punya stigma terhadap orang-orang yang cepat sekali putus atau bercerai, meski contoh konkrit kakak saya langsung menegur bahwa saya tidak pernah merasakan sendiri proses itu.

Yah, tapi siapa lah saya untuk mempertanyakan dan menganalogikan, toh saya belum pernah punya hubungan serius…

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: