Mengenai Komitmen – dan Tuntutan

Ini adalah lanjutan dari post saya sebelumnya mengenai komitmen.

Sekedar memberi sedikit gambaran, tulisan yang saya maksud diterbitkan di sebuah website, dan tentunya membicarakan mengenai hubungan romansa. Setelah tulisan yang pertama, kemudian ada tulisan lain yang diterbitkan setelahnya yang membicarakan mengenai perubahan. Sejujurnya, saya merasa tulisan ini agak menyinggung komentar saya di tulisan pertama, yang mungkin terlalu ambigu karena saya mencoba menjaga agar komentar saya tidak keluar jalur dari topik tulisan, sekaligus agar komentar saya tidak lebih panjang dari artikelnya.

Bagi saya, perubahan itu bukanlah sebuah halangan bagi hubungan yang benar-benar secure, diisi kepercayaan total pada pasangan. Mungkin bagian yang ambigu dari komentar saya adalah saat saya menulis “terlalu mengontrol,” dan ada bagian saat saya menulis menuntut. Saya mengira-ngira bahwa penulis mengira saya anti perubahan dan diminta berubah. Sebenarnya maksud saya bukan itu. Saya menyimpulkan hal itu setelah mendengar berbagai cerita seperti seseorang yang selama berhubungan dengan pacarnya dalam satu tahun, dia sudah berganti nomor telepon seratus kali. Seratus kali. Itu berarti rata-rata dia mengganti nomor telepon setiap tiga atau empat hari. Alasannya sederhana, karena pacarnya takut dia ngobrol dengan cewek lain. Maunya sang pacar, dia hanya boleh ngobrol dengan si pacar. Titik.

Bukankah ini juga satu bentuk tuntutan dan kontrol?

Yap, inilah yang saya maksud.

Contoh lain adalah mengenai teman dekat saya yang sangat diatur ibunya, dari makanan yang boleh dia makan, jam berapa dia boleh keluar rumah (dan berapa lama), pakaian yang harus dipakai, dan sebagainya (sebagai catatan sampingan, teman saya berumur 19, bukan 10 tahun). Mungkin sekilas kedengarannya cukup normal, tapi teman saya jadi stres. Efek sampingnya, dia melakukan hal yang sama pada teman-temannya – sering memaksakan kehendak seperti kalau ke restoran tertentu harus memesan makanan yang dia rekomendasikan. Dia berdebat dengan seorang teman lain selama lima belas menit karena teman yang satu mau memesan makanan lain dan dia memaksa bahwa yang dia sarankan lebih enak. Tidak, mereka tidak berencana berbagi makanan. Bukan hanya dalam hubungan dengan teman lain, dengan dirinya sendiri pun teman saya kurang nyaman. Jadinya, dia selalu bergantung pada teman lain untuk minta ditemani karena dia tidak nyaman sendirian di dalam rumahnya sendiri. Sayangnya, karena terlanjur terlalu patuh pada orangtuanya (terutama ibunya), dia pun tidak berani mengakui bahwa dia tidak suka pada cara ibunya mengatur dia.

Kalau sudah begini, bukan tuntutan untuk kebaikan lagi namanya, tapi tuntutan untuk merespons ketakutan si penuntut dan meyakinkan bahwa ketakutannya tidak akan terpenuhi. Buat saya, ini adalah bukti bahwa si penuntut sangat insecure (maaf saya tidak tahu terjemahannya dalam bahasa Indonesia). Lama-kelamaan, pihak yang dituntut pun bisa ikut insecure juga karena, meski tanpa kesadaran penuh, dia mencium insecurity dalam hubungan mereka. Pada akhirnya, dia pun ikut merasakan ketakutan si penuntut.

Tuntutan yang seperti ini, saya yakini sudah tergolong tidak sehat.

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: