Rumah Tua

Malam ini, aku kembali memasuki rumah yang sudah kosong. Hanya ada dedaunan kering yang sayup-sayup tertiup angin di pekarangan. Cat kuning di tembok sudah mengelupas di berbagai tempat. Hanya atap merahnya saja yang masih kokoh, dalam kemurungannya masih menaungi interior rumah.

Rumah ini bukan milikku, pun tak pernah aku singgah ketika rumah ini masih riuh dengan hidup. Saat itu aku masih terlalu muda. Lebih tepatnya, aku belum merangkak.

Rumah ini rumah orangtuaku. Mereka, meski belum terlalu menua, sudah menanggalkan jubah kepemimpinan dan menyerahkan tonggak kekuasaan pada bibi dan saudaraku. Meski bukan kekuasaan untuk otoritas sebesar presiden maupun sekaya sultan, bukan juga seprestisius profesor agung, tapi orangtuaku sudah meninggalkan gading-gading terbesar di dalam gua. Dengan harapan gading-gading lain juga akan ditaruh nantinya, mengguratkan ceruk di lantai. Namun kedua gading mereka tentunya akan tetap jadi yang terpuja, simbol kali pertama pembentukan gua peristirahatan para gajah.

Aku memasuki rumah tua itu dengan waswas. Sedikit berharap di hati, mungkin aku bisa menemukan sisa-sisa artefak kejayaan orangtuaku. Atau malah mencium bau bangkai cicak yang mereka injak suatu malam dengan sengaja.

Mohon dimaklumi, meski diantara sekian jumlah saudaraku aku tergolong remaja, tapi ketika kembali menjelajahi kawasan perumahan tempat kami tinggal, aku merasa terlambat lahir. Sehingga sejarah hidup maupun catatan peninggalan orangtuaku, aku tak pernah jadi saksi langsung. Hanya mendengar omongan seorang tante yang sering menyenggol orangtuaku dengan candanya.

Penasaran, aku jadi memasuki lagi rumah tua ini, mencoba menghidupi kenangan yang tersisa.

Di depan pintu, ada tanda yang sudah familier aku kenal. Mulai hari ini, pindah ke rumah besar di pojok perumahan. Ya, aku hafal dengan tanda ini karena disinilah biasanya aku berhenti menapak, hanya termangu membaca alamat rumah yang kini kami tinggali. Tapi hari ini, aku sudah meniatkan diri untuk terus merangsek masuk.

Pintu rumah memang tidak terkunci, tapi jalan masuk setelah ruang tamu sungguh seperti labirin. Tak jelas koridor mana yang ke kiri, ke kanan, bahkan jika ada koridor. Aku terpaksa meraba-raba dalam gelap dengan cangkir berisi sebatang lilin putih yang sudah terbakar sumbunya. Pada dinding-dinding yang kulewati terpampang foto-foto lama para tante yang pertama kali kukenal, tapi foto-foto tersebut sungguh asing. Kelihatan sekali bahwa mereka masih beberapa tahun lebih muda. Di setiap sisi pigura tercantum tanggal pengambilan foto. Kuhitung-hitung perkiraan umur mereka ketika itu sambil kulalui setiap gambar.

Bukannya aku tak tertarik menyelami kehidupan lama mereka, tapi tujuanku kemari adalah untuk mencari tahu tentang orangtuaku. Hari yang sudah kelewat malam membuatku tidak bisa berlama-lama di dalam. Aku terus tertatih dalam gelap hingga ketika tertangkap di ujung mataku nama ibuku. Kukira itu kamar tidurnya.

Pintu kayu menderit perlahan ketika kudorong daunnya. Dadaku berdegup perlahan, tegang dalam sunyinya. Tegang karena antisipasi akan penemuan yang menungguku.

Seperti dugaanku, di dalam kamar tertinggal beberapa perabotan tua hasil karya ibu. Kususuri satu persatu, kuamati yang terlihat menarik, kutinggalkan yang agaknya terlalu teknis. Beberapa karyanya membuatku cukup takjub karena detail dan desainnya, tapi aku masih mencari sesuatu yang lebih menakjubkan lagi. Aku ingin tahu kenapa tanteku si tertua begitu memujanya. Aku ingin tahu kenapa tanteku si urakan selalu mengatainya.

Belum banyak yang kuamati ketika kulihat sebuah perkamen tergeletak di atas meja.

Aku meraihnya, membukanya dengan penasaran. Terkejut aku.

Sebuah buku renungan terbaring persis di sampingnya. Kubuka pula buku itu, tak seberapa tebalnya. Terpana aku.

Kututup buku itu dengan kebingungan. Anehnya, sepertinya ruangan ini tak terlalu terisi barang. Atau memang aku yang kurang awas. Tapi segera aku menjejak keluar kamar, masih penuh tanda tanya yang buram tak terbentuk jelas.

Aku berdiri di pekarangan. Daun-daun sudah berhenti tertiup angin, namun cat di dinding masih terkelupas di sana-sini. Aku memandangi rumput di tanah yang tumbuh tak rata, hijau disana, kuning disini, dan tanah gundul kebanyakan.

Perlahan kucermati kekagetanku.

Kata mereka, ibuku otoriter dan galak.

Kata mereka, ibuku filsuf ternama.

Kata mereka, ibuku berlidah seperti ular, bertaring seperti singa.

Kata mereka, semuanya aku percaya.

Hari ini, aku baru melihat seorang ibu yang lembut, tegas, religius.

 

Aku mau bukti hebat dan dinginnya dia.

Rupanya ibuku manusia yang punya rasa.

 

***

*catatan: bukan mengenai orangtua sebenarnya.

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: