Archive for the ‘Indonesian’ Category

Cita-Cita
March 23, 2016

Ketika ulang tahun baru-baru ini, saya mendapat ucapan selamat paling pertama dari sepupu saya yang masih remaja muda di Facebook. Kemudian kakak saya mengucapkan selamat lewat Whatsapp, disusul mama saya. Papa saya turut mengirim sebuah pesan singkat: “Selamat ulang tahun, semoga cita-cita kamu tercapai dalam waktu singkat.”

 

Saat membaca pesan tersebut, saya kehilangan kata-kata.

***

Cita-cita. Umumnya, kalau membicarakan cita-cita, yang paling sering diucapkan adalah “Capailah cita-cita setinggi langit.” Pertanyaan untuk anak-anak pun biasanya adalah, “Cita-citanya jadi apa?” Lalu dijawab dengan berbagai profesi. Jadi polisi, dokter, astronot.

Sewaktu saya kecil, ketika dihadapkan dengan pertanyaan tersebut, dengan girangnya saya akan mengucapkan, “Jadi guru!” “Jadi dokter hewan!” Seperti burung yang membeo, saya menirukan kakak-kakak yang lebih tua. Cita-cita saya pun berubah-ubah sepanjang tahun.

Sekarang, saat saya sudah tidak kecil lagi, saya hanya diam kalau ditanya pertanyaan tersebut. Bukannya ada yang berniat mempertanyakan juga sih – sudah besar kan, harusnya bukan “mau jadi apa” tapi “sedang jadi apa.” Maka, ketika saya membaca pesan dari papa, saya bertanya kepada diri sendiri, “Cita-citaku apa?”

***

Cita-cita saya tidak muluk-muluk. Saya tidak sedang bermimpi mau jadi dokter. Edukasi saya sudah terlanjur kebablasan masuk humanitas, tidak sempat mundur untuk belajar sains. Pun juga saya tidak bermimpi jadi guru. Sejak hukum lokal mengenai kurikulum guru diubah, saya putus harapan. Mau jadi astronot? Mimpi ke bulan terlalu jauh rasanya.

Cita-cita saya sederhana. Saya ingin tidak takut lagi menghadapi figur otoritas. Saya ingin tidak takut lagi menghadapi diskriminasi karena penampilan saya yang terlalu putih di Indonesia dan terlalu kuning di Kanada. Saya ingin tidak takut lagi menunjukkan wajah pada anggota keluarga yang mungkin baru membaca sejarah aktivitas saya dalam grup LGBT universitas di Facebook. Saya tidak ingin takut lagi mendengar cecaran mengenai agama. Saya tidak ingin takut lagi menampilkan tubuh saya yang 20 cm terlalu lebar.

Selain itu, saya juga ingin tidak takut lagi pergi ke dokter, psikolog, staf administrasi, atau profesor sendirian. Saya ingin kembali ke saat saya masih bisa mencari tahu deadline ketika saya harus memenuhi sebuah tanggung jawab. Saya ingin bisa memenuhi tanggung jawab saya. Supaya saya akhirnya bisa lulus kuliah setelah tertunda satu tahun. Supaya papa saya tidak perlu bekerja mencari uang lagi untuk uang kuliah saya.

Dalam waktu singkat.

Advertisements

Kijang dan Sita
March 9, 2013

Kamu kijang kencana,

Akulah bagimu Sita.

Kita berlari bersama

Menyusur tepi hutan

Tapi hitam mataku cuma dapat

menelanjang punggungmu saja.

Mengenai Agama
February 9, 2013

Agama sepatutnya bukanlah sebuah kompartemen kotak dimana orang-orang harus memasukkan dan mentransformasikan dirinya sedemikian rupa hingga ia pun menjadi kotak. Kotak yang dengan paksaan dimasukkan hingga ke dalam celah-celah sempit yang notabene tidak akan bisa memuat benda sebesar kotak sehingga harus dibor ,digergaji, dan dipotong dinding-dindingnya agar bisa memuat kotak.

Agama adalah air yang mengalir dan dapat berubah bentuk tanpa berubah komposisi. Air yang bisa mengalir ke dalam lubang jarum maupun mengisi lautan, air yang bercampur dengan daun teh ataupun bubuk kopi supaya bisa ditenggak, air yang tanpa bentuk tetap dan tanpa menuntut dikenali menopang hidup segala makhluk di bumi.

Air bah menghancurkan, air sungai menghidupi. Air laut maupun air hujan, keduanya terasa asin, namun berbeda fungsinya. Air asin dan tawar menghidupi ikan yang berbeda. Air hangat mengompres dahi yang demam, air dingin menenangkan pipi yang bengkak.

Agama yang tanpa paksaan dapat menerima dan diterima, sungguh merupakan agama yang indah.

Rumah Tua
January 4, 2013

Malam ini, aku kembali memasuki rumah yang sudah kosong. Hanya ada dedaunan kering yang sayup-sayup tertiup angin di pekarangan. Cat kuning di tembok sudah mengelupas di berbagai tempat. Hanya atap merahnya saja yang masih kokoh, dalam kemurungannya masih menaungi interior rumah.

Rumah ini bukan milikku, pun tak pernah aku singgah ketika rumah ini masih riuh dengan hidup. Saat itu aku masih terlalu muda. Lebih tepatnya, aku belum merangkak.

Rumah ini rumah orangtuaku. Mereka, meski belum terlalu menua, sudah menanggalkan jubah kepemimpinan dan menyerahkan tonggak kekuasaan pada bibi dan saudaraku. Meski bukan kekuasaan untuk otoritas sebesar presiden maupun sekaya sultan, bukan juga seprestisius profesor agung, tapi orangtuaku sudah meninggalkan gading-gading terbesar di dalam gua. Dengan harapan gading-gading lain juga akan ditaruh nantinya, mengguratkan ceruk di lantai. Namun kedua gading mereka tentunya akan tetap jadi yang terpuja, simbol kali pertama pembentukan gua peristirahatan para gajah.

Aku memasuki rumah tua itu dengan waswas. Sedikit berharap di hati, mungkin aku bisa menemukan sisa-sisa artefak kejayaan orangtuaku. Atau malah mencium bau bangkai cicak yang mereka injak suatu malam dengan sengaja.

Mohon dimaklumi, meski diantara sekian jumlah saudaraku aku tergolong remaja, tapi ketika kembali menjelajahi kawasan perumahan tempat kami tinggal, aku merasa terlambat lahir. Sehingga sejarah hidup maupun catatan peninggalan orangtuaku, aku tak pernah jadi saksi langsung. Hanya mendengar omongan seorang tante yang sering menyenggol orangtuaku dengan candanya.

Penasaran, aku jadi memasuki lagi rumah tua ini, mencoba menghidupi kenangan yang tersisa.

Di depan pintu, ada tanda yang sudah familier aku kenal. Mulai hari ini, pindah ke rumah besar di pojok perumahan. Ya, aku hafal dengan tanda ini karena disinilah biasanya aku berhenti menapak, hanya termangu membaca alamat rumah yang kini kami tinggali. Tapi hari ini, aku sudah meniatkan diri untuk terus merangsek masuk.

Pintu rumah memang tidak terkunci, tapi jalan masuk setelah ruang tamu sungguh seperti labirin. Tak jelas koridor mana yang ke kiri, ke kanan, bahkan jika ada koridor. Aku terpaksa meraba-raba dalam gelap dengan cangkir berisi sebatang lilin putih yang sudah terbakar sumbunya. Pada dinding-dinding yang kulewati terpampang foto-foto lama para tante yang pertama kali kukenal, tapi foto-foto tersebut sungguh asing. Kelihatan sekali bahwa mereka masih beberapa tahun lebih muda. Di setiap sisi pigura tercantum tanggal pengambilan foto. Kuhitung-hitung perkiraan umur mereka ketika itu sambil kulalui setiap gambar.

Bukannya aku tak tertarik menyelami kehidupan lama mereka, tapi tujuanku kemari adalah untuk mencari tahu tentang orangtuaku. Hari yang sudah kelewat malam membuatku tidak bisa berlama-lama di dalam. Aku terus tertatih dalam gelap hingga ketika tertangkap di ujung mataku nama ibuku. Kukira itu kamar tidurnya.

Pintu kayu menderit perlahan ketika kudorong daunnya. Dadaku berdegup perlahan, tegang dalam sunyinya. Tegang karena antisipasi akan penemuan yang menungguku.

Seperti dugaanku, di dalam kamar tertinggal beberapa perabotan tua hasil karya ibu. Kususuri satu persatu, kuamati yang terlihat menarik, kutinggalkan yang agaknya terlalu teknis. Beberapa karyanya membuatku cukup takjub karena detail dan desainnya, tapi aku masih mencari sesuatu yang lebih menakjubkan lagi. Aku ingin tahu kenapa tanteku si tertua begitu memujanya. Aku ingin tahu kenapa tanteku si urakan selalu mengatainya.

Belum banyak yang kuamati ketika kulihat sebuah perkamen tergeletak di atas meja.

Aku meraihnya, membukanya dengan penasaran. Terkejut aku.

Sebuah buku renungan terbaring persis di sampingnya. Kubuka pula buku itu, tak seberapa tebalnya. Terpana aku.

Kututup buku itu dengan kebingungan. Anehnya, sepertinya ruangan ini tak terlalu terisi barang. Atau memang aku yang kurang awas. Tapi segera aku menjejak keluar kamar, masih penuh tanda tanya yang buram tak terbentuk jelas.

Aku berdiri di pekarangan. Daun-daun sudah berhenti tertiup angin, namun cat di dinding masih terkelupas di sana-sini. Aku memandangi rumput di tanah yang tumbuh tak rata, hijau disana, kuning disini, dan tanah gundul kebanyakan.

Perlahan kucermati kekagetanku.

Kata mereka, ibuku otoriter dan galak.

Kata mereka, ibuku filsuf ternama.

Kata mereka, ibuku berlidah seperti ular, bertaring seperti singa.

Kata mereka, semuanya aku percaya.

Hari ini, aku baru melihat seorang ibu yang lembut, tegas, religius.

 

Aku mau bukti hebat dan dinginnya dia.

Rupanya ibuku manusia yang punya rasa.

 

***

*catatan: bukan mengenai orangtua sebenarnya.

Mengenai Komitmen – dan Tuntutan
November 25, 2012

Ini adalah lanjutan dari post saya sebelumnya mengenai komitmen.

Sekedar memberi sedikit gambaran, tulisan yang saya maksud diterbitkan di sebuah website, dan tentunya membicarakan mengenai hubungan romansa. Setelah tulisan yang pertama, kemudian ada tulisan lain yang diterbitkan setelahnya yang membicarakan mengenai perubahan. Sejujurnya, saya merasa tulisan ini agak menyinggung komentar saya di tulisan pertama, yang mungkin terlalu ambigu karena saya mencoba menjaga agar komentar saya tidak keluar jalur dari topik tulisan, sekaligus agar komentar saya tidak lebih panjang dari artikelnya.

Bagi saya, perubahan itu bukanlah sebuah halangan bagi hubungan yang benar-benar secure, diisi kepercayaan total pada pasangan. Mungkin bagian yang ambigu dari komentar saya adalah saat saya menulis “terlalu mengontrol,” dan ada bagian saat saya menulis menuntut. Saya mengira-ngira bahwa penulis mengira saya anti perubahan dan diminta berubah. Sebenarnya maksud saya bukan itu. Saya menyimpulkan hal itu setelah mendengar berbagai cerita seperti seseorang yang selama berhubungan dengan pacarnya dalam satu tahun, dia sudah berganti nomor telepon seratus kali. Seratus kali. Itu berarti rata-rata dia mengganti nomor telepon setiap tiga atau empat hari. Alasannya sederhana, karena pacarnya takut dia ngobrol dengan cewek lain. Maunya sang pacar, dia hanya boleh ngobrol dengan si pacar. Titik.

Bukankah ini juga satu bentuk tuntutan dan kontrol?

Yap, inilah yang saya maksud.

Contoh lain adalah mengenai teman dekat saya yang sangat diatur ibunya, dari makanan yang boleh dia makan, jam berapa dia boleh keluar rumah (dan berapa lama), pakaian yang harus dipakai, dan sebagainya (sebagai catatan sampingan, teman saya berumur 19, bukan 10 tahun). Mungkin sekilas kedengarannya cukup normal, tapi teman saya jadi stres. Efek sampingnya, dia melakukan hal yang sama pada teman-temannya – sering memaksakan kehendak seperti kalau ke restoran tertentu harus memesan makanan yang dia rekomendasikan. Dia berdebat dengan seorang teman lain selama lima belas menit karena teman yang satu mau memesan makanan lain dan dia memaksa bahwa yang dia sarankan lebih enak. Tidak, mereka tidak berencana berbagi makanan. Bukan hanya dalam hubungan dengan teman lain, dengan dirinya sendiri pun teman saya kurang nyaman. Jadinya, dia selalu bergantung pada teman lain untuk minta ditemani karena dia tidak nyaman sendirian di dalam rumahnya sendiri. Sayangnya, karena terlanjur terlalu patuh pada orangtuanya (terutama ibunya), dia pun tidak berani mengakui bahwa dia tidak suka pada cara ibunya mengatur dia.

Kalau sudah begini, bukan tuntutan untuk kebaikan lagi namanya, tapi tuntutan untuk merespons ketakutan si penuntut dan meyakinkan bahwa ketakutannya tidak akan terpenuhi. Buat saya, ini adalah bukti bahwa si penuntut sangat insecure (maaf saya tidak tahu terjemahannya dalam bahasa Indonesia). Lama-kelamaan, pihak yang dituntut pun bisa ikut insecure juga karena, meski tanpa kesadaran penuh, dia mencium insecurity dalam hubungan mereka. Pada akhirnya, dia pun ikut merasakan ketakutan si penuntut.

Tuntutan yang seperti ini, saya yakini sudah tergolong tidak sehat.

Esai
November 23, 2012

Waktu menulis esai

aku justru menulis

seratus baris puisi

terpisah-pisah.

(Tapi semuanya berarti kok.

Meski tanpa alasan).

Rindu
November 23, 2012

Aku rindu kamu

seperti pungguk rindu bulan.

Terlalu klise.

Begitulah aku.

Sayangku
November 23, 2012

Sayangku,

Semalam aku bermimpi

Ketemu kamu dan saudaramu.

Mereka bilang

Aku jahanam.

Aku gila

Membuatmu berdarah. Bangsat!

Mereka tidak tahu

Aku memimpikan kamu

Dengan aroma bunga

Melati dan mawar,

Dalam bingkai instagram,

Warna warni vignette style

Setiap malam.

Sayangku,

Aku mau ketemu kamu.

*Setengahnya tertulis mendadak sambil menunggu bus

Mengenai Komitmen
November 16, 2012

Setelah membaca sebuah tulisan mengenai komitmen, renungan saya yang sampai sekarang belum ada jawabannya muncul lagi. Yang akan saya ajukan di bawah, semuanya berbentuk pertanyaan, jadi siap-siap ikut bingung lho…

Sudah lama saya bertanya-tanya, komitmen itu sebenarnya mengenai apa? Apakah hanya berjanji? Komitmen yang saya bicarakan disini adalah komitmen dalam sebuah hubungan, bersama orang lain. Apakah komitmen itu kemudian dibentuk sebagai sebuah janji, seperti “saya berjanji akan terus bersama orang ini, dalam susah dalam duka, dalam sakit dalam sehat, sampai ajal memisahkan”? Mungkin bisa diperkuat lagi, jadi “saya bersumpah.” Lalu bukankah komitmen itu jadi tak memiliki alasan logis yang mendasari? Jadi, kita hanya memegang janji itu sebagai dasar, bahwa ya, saya pernah berkata demikian, dan saya akan mengikuti kata-kata saya.

Saya gali lagi pikiran saya sebelumnya. Kalau dalam hubungan, katakanlah pasangan saya berubah drastis. Apa yang membuat saya berpegang teguh padanya, daripada meninggalkan orang tersebut? Mungkin pendengar akan berpikir kalau saya nggak ada pendirian, atau nggak ada kesetiaan. Tenang dulu. Yang saya mau tanya, apakah kemudian saya tetap tinggal dengan menggenggam kenangan indah kami bersama sebagai dasarnya? Lebih jauh lagi, misalnya pasangan saya kehilangan memori dan kemudian personalitinya juga berubah. Artinya, saya berpegang hanya pada kenangan dan bentuk fisiknya.

Mengapa saya sebut alasan terakhir, itu karena saya ingin mengajukan cerita buatan saya. Anggaplah kecelakaan itu benar-benar terjadi, hingga sang pasangan kehilangan ingatan. Hanya saya yang ingat mengenai berbagai memori kami. Lalu, bagaimana jika kemudian muncul seseorang lain yang beda fisik dan jelas-jelas tidak pernah berbagi kenangan dengan saya, namun ia memiliki personaliti yang persis seperti pasangan saya dulu.

Haruskah saya, dengan sumpah komitmen saya, tetap tinggal dalam hubungan tersebut?

Ada penggalian lebih jauh lagi. Jika segala kemungkinan di dunia bisa terjadi, dan pasangan saya sudah kecelakaan, namun dengan segala kemungkinan rohnya berpindah tubuh. Dengan kemungkinan lagi, kami bertemu, dan dia mencoba meyakinkan saya bahwa dia adalah sang pasangan, tapi fisiknya berbeda. Bagaimana saya bisa yakin bahwa tubuh itu terisi dengan rohnya?

Dalam kasus ini, saya akan berargumen bahwa dia bisa menyebutkan persis semua kenangan kami berdua. Dengan analogi dan jawaban diatas, saya menyimpulkan bahwa kenangan itu sangat kuat. Namun, kembali ke kenyataan, jika pasangan berubah drastis, sangat drastis hingga sudah tidak ada lagi kebahagiaan untuk saya. Apakah kemudian kenyataan bahwa kami sudah berbagi sekian kenangan indah cukup untuk menjadi alasan meneruskan hubungan kami? Jika kebahagiaan itu bertahan selama lima tahun, kemudian dia berubah dan kami bertahan dua puluh tahun, cukupkah bagi lima tahun pertama itu untuk mendasari empat kali lipatnya?

Sebagai catatan, saya membicarakan semua ini tanpa mengikutsertakan faktor-faktor lain seperti anak atau perasaan orangtua yang harus dijaga.

Lalu ada pertanyaan lain lagi. Jika saya sudah berkomitmen, apakah komitmen itu tidak ada ujungnya? Jika saya harus menetap apapun yang terjadi, adakah suatu titik dimana saya bisa berkata, “Cukup, saya tidak bisa meneruskan komitmen saya.”

Saya bukannya sedang melegitimasikan orang-orang yang nggak setia lho. Seperti orang lain, saya juga punya stigma terhadap orang-orang yang cepat sekali putus atau bercerai, meski contoh konkrit kakak saya langsung menegur bahwa saya tidak pernah merasakan sendiri proses itu.

Yah, tapi siapa lah saya untuk mempertanyakan dan menganalogikan, toh saya belum pernah punya hubungan serius…

Kenangan
September 5, 2012

Ada satu kenangan bersama Papa yang seringnya terlupakan, tapi baru saja teringat kembali. Dan kenangan itu cukup berbekas hingga saya merasakan lagi sakit di kerongkongan dan basahnya mata.

Kenangan ini adalah sebuah kejadian yang saya tidak pernah bermimpi akan mengalami, dan hanya pernah terjadi saat itu, sekali saja.

Saat itu, saya menelepon Papa.

Ketika saya mendengar kata, “Halo,” di ujung telepon, saya hanya menyebut, “Papa.” Lalu saya menangis.

Papa tidak mengatakan apa-apa, hanya hening. Yang terdengar hanya suara tangisan saya. Setelah beberapa menit, saya mulai tenang. Tangisan saya sudah beralih menjadi sesenggukan.

Ini memori yang, bagi saya, sangat kuat. Karena biasanya saya tidak pernah berbagi perasaan dengan Papa, tidak pernah mengungkapkan perasaan kecuali kalau saya sedang marah pada Papa. Dan saat itu Papa mendengarkan tangisan saya. Dalam diam.

Mungkin lebih baik begitu. Papa diam. Karena saya tahu, Papa bukan orang yang ekspresif, yang bisa menghibur dengan kata-kata lembut. Seumur hidup pun, saya baru sekali melihat Papa menangis. Tapi, dalam diamnya Papa, saya justru terhibur, hingga kemudian saya bisa bicara layak.

Mungkin saya bisa menangis, karena saya mau berbicara mengenai satu topik yang saya tahu, Papa pun peduli. Topik yang penting bagi kami berdua, yang dapat kami rasakan bersama. Saat itu, anjing saya baru mati.

Setelah itu, baik saya maupun Papa tidak pernah mengungkit telepon itu. Tapi, bagi saya, memori itu sungguh berarti. Dan saya kira memori itu juga berarti untuk Papa, saat mendengarkan putrinya menangis di telepon, dalam diam.